METODE RESITASI
22 Maret 2015
BAB
1
PENDAHULUAN
A. LatarBelakangMasalah
Kegiatan interaksi belajar mengajar harus selalu
ditingkatkan efektifitas dan efisiensinya. Banyaknya kegiatan pendidikan di
sekolah, dalam usaha meningkatkan mutu dan frekuensi isi pelajaran, sangat
menyita waktu siswa untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar tersebut.
Untuk mengatasi kedan tersebut, guru perlu memberikan tugas-tugas di luar jam
pelajaran. Bila hanya menggunakan seluruh jam pelajaran yang ada untuk tiap
mata pelajaran, tidak akan mencukupi tuntutan luasnya pelajaran yang
diharuskan, seperti yang tercantum di dalam kurikulum. Dengan demikian perlu
diberikan tugas-tugas,sebagai selingan untuk variasi teknik penyajian atau
berupa pekerjaan rumah. Kemudian guru mengadakan evaluasi karena akan mendorong
motivasi belajar siswa.
B. PerumusanMasalah
1.
Apapengertian metode resitasi?
2.
Apasajakah fase-fase resitasi?
3.
Apa saja macam-macam resitasi?
4.
Apakah kelebihan metode
Resitasi?
5.
Apakah kekurangan metode
Resitasi?
6.
Bagaimanakah cara
mengantisipasi kekurangan tersebut?
7.
Apasajakah langkah-langkah yang
perlu diperhhatikan?
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Metode Resitasi
Pemberian
tugas atau resitasi berasal dari bahasa Inggris to cite yang artinya
mengutip (re = kembali), yaitu siswa mengutip atau mengambil sendiri
bagian-bagian pelajaran itu dari buku-buku tertentu, lalu belajar sendiri dan
berlatih hingga sampai siap sebagaimana mestinya.[1]
Metode
ini lebih dikenal dengan sebutan pekerjaan rumah (PR), padahal pelaksanaannya
bukan hanya di rumah, bisa saja seorang guru memberikan tugas kepada
siswa-siswanya untuk mengerjakan sebuah tugas di laboratorium, perpustakaan,
masjid/musholla dan lainnya. Tergantung jenis tugas yang diberikan.
Dengan
kata lain metode resitasi dimaksudkan; yaitu guru menyajikan bahan pelajaran
dengan cara memberikan tugas kepada siswa, untuk dikerjakan dengan penuh rasa
tanggung jawab dan kesadaran. Dalam pelaksanaannya metode resitasi bukan saja
hanya dilakukan oleh siswa di rumah, akan tetapi pemberian tugas (resitasi)
dapat dikerjakan/laksanakan di sekolah/halaman sekolah, perpustakaan,
laboratorium, dan lain-lain tempat. Biasanya, metode ini dilakukan apabila guru
mengharapkan pengetahuan yang diterima siswa lebih mantap dan mengaktifkan
mereka dalam mencari atau mempelajari suatu masalah dengan lebih banyak
membaca, mengerjakan sesuatu secara langsung.[2]
B. Fase-Fase Resitasi
Metode resitasi mempunyai tiga fase
:
a.
Fase pemberi
dengan tugas. Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan :
tujuan yang akan dicapai, jenis tugas, tugas sesuai dengan kemampuan murid,
sediakan waktu yang cukup dan ada sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa.
b.
Fase pelaksanaan
tugas. Fase ini siswa diberikan bimbingan dan pengawasan oleh guru dan
diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja, diusahakan dikerjakan sendiri
oleh siswa tidak menyuru orang lain.[3]
c.
Fase
pertanggungjawaban tugas. Hal yang harus dilakukan pada fase ini : laporan
siswa, ada tanya jawab atau diskusi kelas, dan penilaian hasil tugas siswa.
C. Macam-Macam type tugas :
Ada bermacam-macam type tugas,
antara lain :
a.
Tugas dari buku
teks
b.
Tugas dari
koran, dan majalah.
c.
Tugas eksperimen
d.
Tugas
melaksanakan praktek
e.
Tugas
melaksanakan proyek[4]
D. Kelebihan Metode Resitasi
Adapun
keunggulan dari metode ini adalah
1.
Hasil pelajaran
lebih tahan lama dan membekas dalam ingatan siswa.
2.
Siswa belajar
dan mengembangkan inisiatif dan sikap mandiri.
3.
Memberikan
kebiasaan untuk disiplin dan giat belajar.
4.
Dapat
mempraktekkan hasil teori atau konsep dalam kehidupan nyata atau masyarakat.
5.
Dapat
memperdalam pengetahuan siswa dengan spesialis tertentu.
6.
Dapat
dilaksanakan dalam berbagai bidang studi.
7.
Siswa menjadi
aktif dan bertanggung jawab.
8.
Sangat berguna
untuk mengisi kekosongan waktu agar siswa dapat melakukan hal-hal yang bersifat
konstruktif
E. Kelemahan Metode Resitasi
Sedangkan kelemahan metode ini
adalah:
1.
Siswa dapat
melakukan penipuan seperti tugas tersebut dikerjakan oleh orang lain atau
menjiplak karya orang lain.
2.
Bila tugas
diberikan terlalu banyak, siswa dapat mengalami kejenuhan atau kesukaran yang
berakibat ketenangan batin siswa terganggu.
3.
Sukar memberikan
tugas yang dapat memenuhi sifat perbedaan individu dan minat dari masing-masing
siswa dan murid suka menyalin pekerjaan teman.[5]
4.
Pemberian tugas
cenderung memakan waktu dan tenaga serta biaya yang cukup berarti.
F. Cara-cara Mengantisipasi
Dari
kelemahan-kelemahan yang telah disebutkan di atas, ada beberapa cara yang dapat
dilakukan seorang guru guna meminimalisir kelemahan-kelemahan dari metode
resitasi guna tercapainya tujuan pembelajaran, yaitu:
1.
Merencanakan
resitasi dengan matang.
2.
Tugas yang
diberikan hendaklah sesuai dengan kemampuan peserta didik.
3.
Tugas yang
diberikan sesuai dengan materi pelajaran yang telah diberikan.
4.
Jenis tugas yang
diberikan kepada siswa hendaknya telah dimengerti betul oleh siswa, agar tugas
dapat dilaksanakan secara baik.
5.
Jika tugas yang
diberikan bersifat tugas kelompok maka pembagian tugas (materi tugas) harus
diarahkan, termasuk batas waktu penyeselaiannya.
6.
Guru dapat
membantu penyediaan alat dan sarana yang diperlukan dalam pemberian tugas.
7.
Mengoreksi dan
memberi nilai terhadap tugas yang dikerjakan oleh siswa guna memberi rangsangan
atau dorongan.
8.
Perkembangan
nilai prestasi siswa-siswa perlu dicatat pada buku catatan nilai guru agar
diketahui grafik belajar mereka.
9.
Tugas yang
diberikan dapat merangsang perhatian siswa.[6]
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Yang dimaksud dengan pemberian
tugas belajar dan resitasi ialah suatu cara mengajar di mana seorang guru
memberikan tugas-tugas tertentu kepada murid-murid, sedangkan hasil tersebut
diperiksa oleh guru dan murid mempertanggung jawabkannya.
Pertanggung jawaban itu dapat
dilaksanakan dengan cara :
1.
Dengan menjawab test yang diberikan
oleh guru
2.
Dengan menyampaikan ke muka berupa
lisan
3.
Dengan cara tertulis.
Dalam penggunaan teknik Resitasi
ini, siswa mempunyai kesempatan untuk saling membandingkan dengan hasil
pekerjaan orang lain serta dapat mempelajari dan mendalami hasil uraian orang
lain. Dengan demikian akan memperluas, memperkaya, dan memperdalam pengetahuan
serta pengalaman siswa.
[4] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, ( Jakarta
: Ciputat Pers, 2002 ),h. 166
[5] Zuhairini, dkk. , Metodik Khusus Pendidikan Agama, ( Surabaya : Usaha
Nasional, 1983 ),cet.Ke-8,h. 86
[6] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, ( Jakarta
: Ciputat Pers, 2002 ),h. 166
thanks,,bsa berbagi
BalasHapus